#GazaUnderAttack

Powered by Blogger.

Tausiyah

Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- : Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats Tsaqofi radhiallahuanhu dia berkata, saya berkata : Wahai Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian berpegang teguh (istiqomahlah. (Riwayat Muslim)

"Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan" Anis Matta (Barang kali kita memang tidak bisa mengubah keadaan, tetapi bukankah kita bisa mengubah sikap dalam menghadapinya..)

"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (QS. Al-Kahfi:13)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)."(QS. Ali Imran : 8)

Twitter

#SavePalestine



Live Traffic Map

Live Traffic Feed

loading...

Sunday, April 18, 2010

Andai Aku Jatuh Cinta

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !
Read more...
separador

Sunday, April 11, 2010

Kepada Apa Kami Menyeru

Tujuan Hidup Manusia Dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian manusia menjadikan makan dan kesenangan yang lain sebagai tujuan hidupnya

sebagian manusia yang menjadikan penyebaran fitnah, kejahatan, dan kerusakan sebagian tujuan hidupnya
Allah telah membersihkan kaum mukminin dari tujuan-tujuan buruk itu dan mencanangkan untuk mereka sebuah tujuan yang lebih mulia lagi luhur. Di atas pundak mereka Allah meletakkan beban besar yang sangat luhur; yaitu tugas membawa manusia ke jalan kebenaran, membimbing mereka ke jalan kebaikan, menerangi seluruh penjuru dunia dengan matahari Islam

Mandat Suci Itu Berarti Pengorbanan, Bukan Pemanfaatan
dalam mencapai tujuan suci, kaum muslimin rela menjual jiwa dan hartanya kepada Allah swt. dengan keimanannya mereka merasa tak berhak lagi atas jiwa dan hartanya. Keduanya telah menjadi wakaf di jalan Allah demi mensukseskan dakwah dan menyampaikannya kepada segenap hati manusia.

Di Manakah Kaum Muslimin dari Tujuan Itu?
Umat muslim telah menjadi tawanan syahwat dan budak keserakahan, dengan hanya memikirkan makanan lezat, kendaraan megah, perhiasan mewah, tidur nyenyak, istri cantik, penampilan parlente dan gelar-gelar palsu.

Tujuan Adalah Dasar, Perbuatan Adalah Buahnya
Tujuan adalah dasar yang mendorong kita sepanjang perjalanan. Tapi karena tujuan itu masih samar bagi umat Islam, maka wajib bagi kita untuk menjelaskan dan menerangkannya, tujuan kita adalah memimpin dunia, dan membimbing manusia kepada ajaran Islam yang syamil, di mana manusia tidak mungkin menemukan kebahagiaan kecuali bersamanya

Sumber-Sumber Tujuan Kami
Bersumber  dalam tiap ayat Al-Qur’an; menampakkan diri dalam hadits-hadits Rasulullah saw.; tergambar dalam tindakan dan perilaku generasi pertama Islam

Mereka Bertanya
Kader ikhwan wakafkan kepadanya segenap potensinya, bahkan harta dan jiwa untuk kebaikan dunia dan akhirat, melebur berikut harta dan jiwa dalam tujuan besar itu. Semua demi membahagiakan umat dan saudara-saudara kami. Di jalan panjang itu lupakan segala kesenangan, bahkan terkadang untuk anak-anak sendiri sekalipun
kader-kader Ikhwan; mereka begadang ketika semua orang tertidur lelap, mereka gelisah di saat semua orang lengah

Dari Mana Sumber Dana?
Setiap anggota Ikhwan selalu menyisihkan anggaran belanja keluarga untuk dakwah, dengan mengirit dalam pemenuhan kebutuhan pokok keluarga dan anak-anaknya.

Kami Dan Politik
Kami menyeru kalian kepada Islam, kepada ajaran-ajarannya dan kepada hukum-hukumnya. Jika seruan itu kalian anggap sebagai politik, maka itulah politik kami. Dan jika orang yang menyeru kalian kepada itu semua kalian katakan sebagai politikus, maka alhamdulillah kami adalah politikus yang paling ulung.

Apakah Dasar Kebangsaan?
Tidakkah engkau melihat bahwa dalam ayat-ayat tersebut, Allah telah menisbatkanmu kepada diri-Nya, memberimu keutamaan ketika berada dalam perlindungan-Nya dan membanjirimu dengan lautan keperkasaan-Nya
Tak Ada Kehormatan Selain Itu
menisbatkan nasab kepada Allah, berarti Anda lelah memperoleh semua makna kehormatan dan wibawa yang diimpikan oleh setiap orang

Sumber Kekuatan Terbesar
iman yang senantiasa penuh keyakinan akan keberhasilan, hingga tak ada lagi rasa takut kepada orang, bahkan juga kepada segenap alam, walaupun mereka bersatu, hendak merampas aqidah dan menodai ideologimu

Kebangsaan Kami Adalah Nasab Universal
menisbatkan nasabnya (berafiliasi) kepada Allah, yaitu persaudaraan antar suku bangsa, yang akan mematikan fanatisme kesukuan yang membinasakan

Misi Seorang Muslim
untuk ruku’ dan sujud serta mendirikan shalat yang merupakan intisari ibadah, tiang Islam dan simbol yang paling menonjol. Allah juga memerintahkan mereka untuk menyembah-Nya dan tidak menjadikan sesuatu pun sebagai sekutu bagi-Nya. Allah juga memerintahkan mereka melakukan perbuatan baik semampu mereka, yang dengan itu, sesungguhnya Allah juga hendak melarang mereka melakukan kejahatan

Rahib Di Malam Hari, Dan Penunggang Kuda Di Siang Hari
hubungan antara kewajiban individu –seperti shalat dan puasa– dengan kewajiban sosial; bahwa kewajiban pertama adalah sarana menuju terlaksananya kewajiban kedua, dan bahwa aqidah yang benar adalah pondasi keduanya. Seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban individu dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban sosial, juga sebaliknya, seseorang tidak dibenarkan meninggalkan kewajiban sosial dengan alasan sibuk melaksanakan kewajiban individu, sibuk beribadah dan berhubungan dengan Allah. Sungguh suatu formula yang seimbang dan sempurna

Dari Mana Kita Harus Memulai
Kekuatan jiwa itu terekspresikan dalam beberapa hal sebagai berikut; tekad membaja yang tak pernah melemah, kesetiaan yang teguh dan tidak tersusupi oleh pengkhianatan, pengorbanan yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang diperjuangkan.

Jalan Itu Sudah Jelas
Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya, bahwa ketika Allah menurunkan Al-Qur’an, menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti Muhammad saw., dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya Ia telah meletakkan seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia

Perangilah Hedonisme
Hedonisme (orientasi hidup yang memburu kesenangan) kini menjadi paham yang begitu laris dianut oleh masyarakat. Tiap hari mereka hanya bersenang-senang, hura-hura di jalan-jalan, di klab-klab malam, tempat-tempat wisata musim panas; yang semua itu bertentangan dengan wasiat Islam agar kita selalu memiliki sikap iffah, luhur, suci, senantiasa sungguh-sungguh dalam semua urusan, dan meninggalkan semua bentuk keterlenaan.

“Sesungguhnya Allah mencintai (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang besar, dan membenci (mereka yang selalu berusaha melakukan dan menyelesaikan) urusan-urusan yang remeh (rendah nilainya).”
Umat Islam harus berusaha sekuat tenaga untuk membasmi semua gejala kerusakan sosial. Mereka tidak boleh lemah dan berhenti melakukan itu

Aturlah Pendidikan
Setiap umat dan bangsa Islam tentu memiliki strategi pendidikan guna membangun pemuda dan generasi masa depan yang tangguh yang merupakan tumpuan hidup umat baru itu. Oleh karenanya sistem pendidikan harus dibangun di atas kerangka dasar yang kuat yang memungkinkan generasi muda memiliki imunitas keislaman, kesempurnaan akhlaq, pengetahuan yang memadai tentang ajaran-ajaran agama mereka, dan kebanggaan terhadap kejayaan peradabannya yang luas.

Inilah sebagian kecil prinsip yang diperjuangkan Ikhwanul Muslimin. Mereka menyeru umat Islam, baik penguasa maupun rakyat, pemerintah maupun bangsa, agar membangun proses kebangkitannya di atas dasar prinsip-prinsip itu. Dalam rangka mencapai tujuan Islam yang agung itu mereka menempuh satu cara; yakni menjelaskan keistimewaan ajaran-ajaran Islam. Sehingga bila suatu saat umat telah menerima dan meyakininya, maka dengan sendirinya mereka akan merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

Dayagunakanlah Persaudaraan Kalian
Iman dalam dada telah menumbuhkan rasa cinta, kedekatan, dan persaudaraan yang paling luhur dan abadi di antara mereka. Mereka ibarat satu tubuh, satu hati, dan satu tangan

persaudaraan Islam telah menjadikan setiap muslim percaya bahwa setiap jengkal tanah di mana di situ terdapat manusia yang memeluk agama Islam, maka jengkal tanah itu adalah bagian dari tanah air Islam. Karenanya Islam mewajibkan setiap mereka bekerja untuk melindunginya dan berupaya membahagiakan warganya, itulah tapal batas negeri Islam. Tapal batas yang terlepas dari sekat-sekat geografis dari apa yang disebut tanah tumpah darah. Negeri Islam itu adalah sebentuk kedaulatan ideologi agung dan agama suci; ia merupakan sekumpulan hakikat yang dijadikan Allah sebagai petunjuk dan cahaya bagi dunia ini


Read more...
separador

Saturday, April 10, 2010

Kisah Gadis Kecil dan Hasan Al-Bashri

Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu. Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya. “Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini.” Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, “Ayahmu juga sebelumnyatak mengalami peristiwa seperti ini.”

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. “Gadis kecil yang bijak,” gumam Al-Bashri. “Aku akan ikuti gadis kecil itu.”

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri. “Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam?

Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?” “Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalam, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?”

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu. “Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, “Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah?

Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercabik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?”

“Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?”

“Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?”

“Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?”

“Jika kupanggil, engkau selalu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?” “Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, “Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai.”

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.
Read more...
separador

Etika Da'i

Tidak ada kerja yang paling mulia di muka bumi ini selain kerja kepada Allah yaitu da’wah (QS 41: 34), dan kerja ini bukan profesi tapi kerja setiap pribadi mu’min, bisa dengan lisan, tulisan, harta, jabatan, seni, atau potensi apa pun yang Allah karuniakan kepada mu’min itu. Semua akan menjadi alat da’wah. Amal mulia ini membutuhkan kriteria mulia pula :

Pertama, Ikhlas ; (QS 98:5) sehingga perjalanan da’wah ini bertabur berkah (QS 37;99) diantaranya banyak manusia hijrah melalui da’wahnya. Sekali pun demikian tidak membuat dia “geer”, justru membuat dia semakin bersyukur.

Kedua, Teladan, inilah power da’wah sebenarnya. Apa yang ada dihatinya, itulah yang dia ucapkan, apa yang diucapkan itulah yang diamalkan karena dia tahu besarlah kemurkaan Allah kepada mereka yang tidak konsekwen (QS 61:3). Bukan hanya bisa memberi contoh tapi dirinya pun menjadi contoh bagi ummatnya.

Ketiga, ‘Aabid, ahli ibadah sebaik-baik juru da’wah adalah Rasulullah. Beliau tidak pernah putus berdzikir (QS 33: 41-44), tahajjud (QS 17: 79), berjama’ah dimasjid (QS 9:18), menjaga wudhu, puasa sunnah, dan sebagainya. Kekhusyuan dan kesenangan ibadah membuat hati bersih, pikiran jernih, bicara pun menjadi hikmah, akhlak pun mulia.

Keempat, Istiqomah dan Tsiqqoh (QS 41:30), komitmen dan konsisten, tidak ragu, tidak rapuh, tidak minder, apalagi riya, tidak mudah tergoda, tidak memilah milih tempat atau siapa yang mengundang dan sungguh aib besar mereka yang menentukan tarif da’wahnya. Mereka yang dicintai akan dihargai, tapi mereka yang minta dihargai tidak akan dicintai oleh ummat.

Kelima, Cinta kepada ummatnya luar biasa, memang keluarganya menjadi perhatian pertama, tetapi ummat baginya adalah yang utama. Dia persiapkan keluarganya untuk menjadi keluarga dan generasi da’wah. Perhatian dan do’anya kepada ummat menjadi nafasnya (QS 9:128). Kalau pun dia berdo’a untuk dirinya juga efeknya untuk ummat, “Ya Allah terimalah aku sebagai hamba-Mu dan jadikanlah hamba sebagai alat-Mu yang membuat banyak manusia mendekat kepada-Mu”. Ingat kecaman Rasulullah, da’i yang berdo’a hanya untuk dirinya, sungguh ia diam-diam telah mengkhianati ummatnya. Tidak heran perhatian dan do’a da’i itu hanya untuk ummatnya. Saudara-saudaranya di Palestina, Afganistan, Iraq, Khasmir, dan seterusnya, do’anya pun diakhiri dengan “waj ‘alna minhum” jadikan kami barisan mereka para mujahidin.

Keenam, Tidak merasa paling suci (QS 53: 32), sibuknya asyik memperbaiki diri dan paling cepat koreksi diri kalau belum berhasil memperbaiki ummatnya. Ingat “sebiadab-biadab manusia selama dia hidup masih ada peluang hidayah Allah, demikian sebaliknya, sealim-alim manusia selama dia hidup ada peluang kufur”. Inilah membuat dia semakin berselera berda’wah.

Ketujuh, Paham fiqih da’wah, ada tabligh, ta’lim, tarbiyah, dia tahu setiap tempat ada perkataan dan dia pun berbahasa sesuai dengan kemampuan ummatnya (QS 14:4) bukan hanya menyampaikan tetapi yang penting sampai. “Think globally but act locally” berfikir global tetapi bersikap local, itulah pribadi yang rendah hati. Inilah da’wah global di desa dunia ini.

Kedelapan, Terus semangat belajar sebagaimana semangatnya mengajar (QS 3: 79). Semakin dia ingin da’wahnya berhasil maka semakin semangat belajarnya. Tidak ada cara yang paling jitu menghilangkan keangkuhan diri dan kebodohan selain duduk mengaji lagi. Belajar pada seniornya, sayang pada sesama juru da’wah, menghormati perbedaan mana yang kontroversi dan mana yang variasi. Mengutamakan da’wah, ukhuwah, dan silaturrahim. Inilah generasi robbani yang dirindukan negeri tercinta ini.

(Ustadz Muhammad arifin ilham)
Read more...
separador

Perangkat-Perangkat Tarbiyah

Tarbiyah Islamiyah adalah proses penyiapan manusia yang shalih agar tercipta suatu keseimbangan dalam potensi,tujuan,ucapan,dan tindakan secara keseluruhan.

Tujuan tarbiyah islamiyah secara umum adalah menciptakan kondisi yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan dan ridha dari Allah SWT.

Poin-poin tujuan tarbiyah itu:
1. Ibadah (QS.Adz-dzariat 56)
2. Tegaknya Khilafah Allah di muka bumi (Qs. Al-Baqarah 30)
3. Saling mengenal sesama manusia (Qs Al-hujurat 13)
4. Kepemimpinan dunia (Qs. An-nur 55)
5. Menghukum dengan syariat (Qs. Al-Jatsiyah 18 dan Qs. Al-maidah 49)

Perangkat tarbiyah yang digunakan beragam dan secara bertahap. Beragam berarti ada yang umum dan ada yang khusus. Bertahap dari keterikatan secara umum, lalu keterikatan dalam persaudaraan, kerterikatan dalam aktivitas, hingga keterikatan dalam jihad.

Dimensi fundamental dalam tarbiyah adalah manhaj yang jelas, perangkat yang komprehensif, dan adanya pemimpin yang tegas,terpercaya.

Manhaj yang jelas adalah manhaj yang sesuai dengan Kitabullah, sunah rasul-Nya, hokum-hukum islam yang bersih dari bid’ah dan segala bentuk penyimpangannya

Perangkat-perangkat tatbiyah yang digunakan dan yang komprehensif itu diantaranya:

1. Usrah
Bagi ikhwanul muslimin usrah merupakan bata-bata pertama dalam bangunan jamaah. Pondasi dalam tarbiyah yang terpenting. Merupakan bentuk tarbiyah terkecil namun paling penting dalam membangun karakter anggotanya / ikhwah.

Usrah dapat dikatakan sebagai kumpulan orang yang terikat dengan kepentingan bersama, anggotanya seperti sebuah keluarga dan kerabatnya, menjadi perisai perlindungan yang kokoh bagi anggotanya.
Tujuan usrah secara umum adalah membentuk kepribadian islami secara integral pada setiap individu muslim, mentarbiyah, dan mengembangkannya sesuai etika dan nilai islam.

Aspek kepribadian yang penting adalah aqidah, ibadah, moral,dan wawasan pengetahuan.
Usrah yang baik adalah usrah yang produktif yang banyak melahirkan kader calon naqib ( murobi atau pemimpin usrah).
Rukun-rukun usrah:
- Ta aruf (saling mengenal)
- Tafahum (saling memahami)
- Takaful (saling menanggung beban)

2. Katibah
Merupakan pola spesifik dalam mentarbiyah sekolompok anggota yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan untuk melaksannkan ibadah secara umum, juga tahajud, dzikir, tadabur, dan berpikir kritis.

Dalam jamaah ikhwah, katibah berarti kumpulan beberapa usrah. Setiap katibah harus selesai programnya dalam 40 pekan atau 40 kali pertemuan.

Tujuan katibah secara umum adalah menciptakan keharmoniann bangunan kepribadian islam yang utuh pada seseorang, dekat dengan Allah, taat kepada-Nya.

3. Rihlah
Katibah dan rihlah merupakan tarbiyah kolektif. Rihlah lebih tercurah pada aspek fisik. Umumnya dilakukan setiap sekali sebulan, biasanya dimulai setelah shalat subuh dan berakhir pada saat maghrib.

Di dalam rihlah para peserta diberi kebebasan bergerak, berolah raga, berlatih, bersabar untuk bekerja secara sungguh-sungguh, serta menahan rasa haus dan lapar dengan kadar yang tidak mungkin diperoleh dalam pertemuan usrah, tidak juga katibah.

Dilihat dari tipe peserta, ada beberapa macam rihlah:
1. Rihlah para aktivis
2. Rihlah keluarga ikhwah
3. Rihlah putra ikhwah
4. Rihlh putri ikhwah
5. Rihlah da’i ikhwah

4. Mukhayam / Mu’asykar
Mukhayam / Mu’asyakar dalam sejarah jamaah ikhwah merupakan penerapan dan pengembangan dari sistem jawalah. System jawalah adalah pengembangan dari kelompok rihlah.

Tujuan Mukhayam secara umum ada tiga pokok:
1. Pengumpulan . meliputi pengumpulan tingkat kaum muslim secara umum,tingkat aktivis ikhwah dari berbagai usrah, tingkat para pemimpin ikhwah, hingga tingkat internasional.
2. Tarbiyah. Memeberi celupan kehidupan pribadi peserta dengan celupan islam.
3. Latihan. Melatih interaksi, fisik, tanggung jawab, manajemen mukhayam melatih menjaga kerahasiaan, dan sebagainya.

5. Daurah
Merupakan aktivitas berkala, dilaksanakan pada setiap waktu tertentu secara rutin.

Aktivitasnya mengumpulkan sejumlah ikhwah yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, dan pelatihan tentang suatu masalah dengan tema tertentu yang dirasa penting bagi keberhalangsungan amalan islami.

Daurah adalah forum untuk studi intensif suatu tema, baik berupa kajian ilmiah maupun pelatihan yang dimaksudkan agar peserta memiliki pengetahuan mendalam dan seoptimal yang mungkin diperoleh melalui asuhan para ulama dan spesialis.

Contohnya daurah manajemen, daurah dakwah fardiyah, dan daurah fikih dakwah
Setiap daurah harus mampu mewujudkan tujuan umumnya, kemudian mewujudkan target khusus sesuai dengan tema daurah yang diselenggarakan

6. Nadwah
Nadwah secara umum artinya sekumpulan orang.

Nadwah merupakan pertemuan yang menghimpun sejumlah pakar dan para spesialis untuk mengkaji suatu tema ilmiah atau persoalan. Di mana setiap mereka memberikan pendapatnya dengan argumentasi dan bukti-bukti.

Yang diundang tidak harus dari kalangan ikhwah, bisa praktisi, ulama, pakar, dan spesialis untuk mengkaji suatu persoalan.

Sasaran nadwah adalah pengetahuan dan wawasan pemikiran.

7. Muktamar
Muktamar secara bahasa adalah tempat musyawarah.

Muktamar secara umum ada dua:
1. Muktamar resmi. Forum resmi dengan peserta tertentu untuk kepentingan tertentu. Contohnya muktamar yang membahas persoalan Palestina
2. Muktamar umum. Pesertanya umum. Mengkaji suatu tema dan saling bertukar pendapat untuk membuat suatu rekomendasi yang perlu disebarluaskan.

Selain itu ada muktamar khusus jamaah khusus bagi anggota ikhwah yang diselenggarakan oleh jamaah ikhwah.

Kelebihan muktamar adalah mampu menampung sejumlah besar pakar, terlibat dalam pembahasan dan kajian. Peserta yang ikut, terlibat dalam diskusi dan dialog dengan seluruh anggota muktamar.

Ketujuh perangkat tarbiyah diatas memiliki tujuan-tujuan umum dan khusus serta dilaksanakan dengan manajemen yang berbeda. Ada syarat- syarat menjadi pelaksana dalam setiap kegiatannya serta syarat pemimpin yang bertanggung jawab pada setiap perangkat tarbiyah.
Read more...
separador

Takdir dan Tawakkal


Al-Qhadar        : Ketetapan yang Allah buat jauh sebelum semuanya ada (dalam Kitab Lauhul Mahfuz)
Al-Qadar         : Keputusan Allah




Qadha  -->  Usaha (perencanaan manusia)  --> Qadar

Tidak semua hal yang Allah kehendaki/izinkan itu Allah ridhoi

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah : 216)

Takdir yang Disalahpahami

Selama hidupnya, orang terus-menerus merencanakan masa depan mereka, bahkan keesokan harinya atau sejam berikutnya. Pada waktu tertentu, rencana ini berjalan seperti apa yang direncanakan. Tetapi, kadangkala mereka tak dapat mencapainya karena hal-hal yang tidak diharapkan. Mereka yang jauh dari ajaran Islam mengangap hal tersebut sebagai kesulitan yang tidak disengaja.
Sebenarnya, tak ada rencana yang pasti terselesaikan, ataupun kesulitan yang tak dapat dicegah. Semua kejadian yang dihadapi seseorang dalam hidupnya telah ditentukan sebelumnya oleh Allah dalam takdirnya. Hal ini disebutkan dalam ayat berikut,

“Dia meengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (laamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (as-Sajdah: 5)

“Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49)

Seorang mukmin salah mengira bahwa hari-hari yang dilaluinya adalah apa yang telah ia rencanakan sebelumnya. Kenyataan sebenarnya adalah bahwa ia hanya menyesuaikan diri dengan takdir Allah yang telah ditetapkan atasnya. Bahkan jika seseorang mengira bahwa ia telah berperan dalam sebuah situasi, ia menganggap ia dapat mengubah takdirnya. Sebenarnya ia mengalami momen lain yang telah ditakdirkan untuknya. Tak ada satu waktupun dalam kehidupan kita terjadi di luar takdir. Seseorang yang sedang koma, tak lama kemudian meninggal karena Allah telah mentakdirkannya demikian. Sedangkan orang dengan kondisi yang sama sembuh berbulan-bulan kemudian karena ia telah ditakdirkan demikian pula.
Bagi orang yang tak benar-benar mengerti arti takdir, semua peristiwa terjadi karena ketidaksengajaan. Ia salah mengasumsikan bahwa segala yang ada di alam semesta ini mandiri keberadaannya. Itulah mengapa ketika ia terkena bencana, ia menganggapnya sebagai suatu kesialan.
Meski demikian, manusia terbatas kearifan dan pemahamannya, ia bahkan dibatasi oleh ruang dan waktu. Di sisi lain, semua yang menimpa seseorang telah direncanakan oleh Allah swt., Pemilik Kebijaksanaan Yang Tak Terbatas, Dia yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

“Tak ada suatu bencanapun yang menimpa di muka bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22)

Pada dasarnya, apa yang harus dilakukan seseorang adalah menyerahkan dirinya pada akdir yang telah ditetapkan oleh penciptanya, dan tetap menyadari bahwa segalanya akan berakhir. Sesungguhnya, orang yang benar keimanannya menggunakan setiap detik kehidupan mereka dengan mengakui kenyataan bahwa apa pun yang terjadi, semuanya merupakan bagian dari takdir mereka, dan bahwa Allah telah merencanakan keadaan tersebut dengan maksud-maksud tertentu. Mereka terus mengambil manfaat dari pandangan yang positif ini. Mereka bahkan menilainya sebagai suatu kebaikan. Akhlaq mulia dan penyerahan diri total yang dijalankan oleh orang-orang beriman dijelaskan di dalam Al-Qur`an sebagai berikut,

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah: 51)

Pada akhirnya, seseorang tidak akan pernah bisa mencegah terjadinya suatu peristiwa, baik ia menilainya sebagai suatu kebaikan ataupun keburukan. Jika ia melihat kebaikan dalam segala hal, maka ia akan selalu mendapatkan manfaat. Jika sebaliknya, ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Menyesal atau memberontak tak akan mengubah apa pun dalam takdir seseorang. Karena itulah, tanggung jawab seorang manusia sebagai abdi Allah adalah untuk menyerahkan dirinya kepada keadilannya yang tak terbatas dan takdir yang telah ditentukan-Nya demi untuk menghargai semua peristiwa sebagai suatu kebaikan dan orang yang demikian menyaksikan takdirnya dengan hati yang tenang dan damai.

Setan Berusaha Menghalangi Manusia untuk Menyadari Kebaikan

Di dalam Al-Qur`an, Allah mengatakan bahwa setan sangatlah kufur dan suka melawan. Kita juga belajar dari Al-Qur`an bahwa setan akan mendekati manusia dari setiap arah dan ia akan berusaha dengan segala cara untuk membawa manusia kepada kebejatan moral. Metode yang paling sering dilakukan setan dalam rencana jahatnya adalah menghalangi manusia dari melihat kebaikan dalam segala peristiwa yang menimpanya. Dengan cara demikian, ia juga berusaha untuk menyesatkan manusia kepada pemberontakan dan kekufuran. Orang yang tidak mampu memahami keindahan akhlaq Al-Qur`an akan jauh dari ajaran Islam dan mereka yang menghabiskan hidup mereka untuk mengejar kesia-siaan dan melupakan akhirat akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan.
Setan menyerang kelemahan manusia dan membisikkan tipu daya yang menyenangkan kepada manusia. Ia memanggilnya untuk melawan Allah dan takdir-Nya. Sebagai contoh, seorang mungkin tidak akan merasa kesulitan untuk melihat bahwa tetangganya terkena musibah karena itu adalah bagian dari takdirnya. Namun, dia mungkin tidak bersikap demikian saat ia atau kelurganya tertimpa musibah yang sama. Karena hasutan setan, ia lebih mudah melawan kepada Allah. Seseorang harus melatih kesabarannya supaya ia dapat berusaha melihat kebaikan dalam semua peristiwa, untuk menunjukkan ketundukan dan kepercayaannya kepada Allah. Ketidakmampuan untuk melatih kesadaran seseorang hanya akan membawa kepada sikap yang salah.
Usaha setan untuuk menghalangi manusia untuk melihat kebaikan dengan perbuatan mereka sendiri. Sebagai contoh, setan berusaha untuk meletakkan rasa takut di dalam hati seseorang yang ingin memanfaatkan kekayaannya karena Allah. Godaan setan ini disebutkan di dalam ayat berikut,

“Setan menjanjikan (manakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 268)

Bagaimanapun juga, semua perasaan itu adalah sia-sia. Rencana rahasia setan ini tidak dapat mempengaruhi orang-orang beriman, karena tujuan mereka dalam menggunakan kekayaannya bukanlah untuk mendapatkan keuntungan dunia ataupun kesenangannya sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan keridhaan Allah, rahmat, dan jannah-Nya. Karena itulah, setan tidak dapat menipu orang-orang beriman dengan bisikan yang sia-sia. Dalam ayat berikut dinyatakan bahwa setan tidak dapat mempengaruhi orang-orang beriman,

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya, orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 200-201)

Dari hal-hal tersebut di atas, kita harus memahami bahwa setan memakai dua cara untuk menghalangi manusia dari perbuatan baik. Pertama-tama, ia berusaha menghalangi kebaikan dan perbuatan yang bermanfaat, dan menyodorkan kesengan dunia sebagai tujuan hidup satu-satunya. Kemudian, ia bersungguh-sungguh menghalangi manusia dari melihat kebaikan dan maksud yang terkandung di balik setiap peristiwa.
Bagaimanapun juga, begitu banyak keberkahan yang diberikan cuma-cuma kepada seseorang hingga ia tidak akan bisa menghitungnya. Sejak lahir, manusia dianugerahi keberkahan yang tak terhitung dari Tuhannya, anugerah yang tidak ada henti sepanjang hidupnya. Itulah mengapa, orang beriman yang menjadikan Tuhan mereka sebagai satu-satunya kawan dan pelindung mereka akan memberikan rasa percaya mereka sepenuhnya kepada Allah. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai keinginan, mereka sadar bahwa ada kebaikan di dalamnya. Mereka bersabar bahkan sekalipun saat mereka tidak bisa langsung menemukan maksud Ilahiah di balik kejadian tersebut. Seperti yang dikatakan Nabi saw., “Mintalah pertolongan Allah dari kesulitan akan malapetaka yang hebat.” (Bukhari). Tak peduli apa pun yang terjadi pada mereka, orang-orang beriman tidak pernah memberontak atau bahkan mengeluh. Mereka selalu mengingat bahwa kejadian yang berlawanan dengan keinginan mereka itu akan menjadi keberkahan bagi mereka. Dan dengan kehendak Allah, kesulitan tersebut pada akhirnya terbukti menjadi tolak ukur utama dalam kehidupan mereka dan membawa kepada keselamatan abadi.

Kesimpulan

Orang-orang beriman sepenuhnya hidup dalam kepatuhan kepada Allah. Mereka menyadari bahwa dalam setiap detik kehidupannya segala hal diciptakan oleh Allah dan telah ditentukan sebelumnya oleh Dia dengan rencana tertentu. Walaupun orang-orang beriman dapat menghadapi segala macam kesulitan dan cobaan sepanjang hidupnya, mereka tidak pernah menyesal dan berkata, “seandainya ini tidak terjadi padaku”. Mereka percaya bahwa suatu tujuan Ilahiah dan kebaikan akan ditemukan dalam setiap kejadian. Karena itulah, bahkan dalam keadaan yang sangat menekan, mereka hidup dalam kedamaian pikiran. Bagaimanapun juga, kaum kafir yang tidak menyadari kebenaran ini, merasa sangat khawatir saat berhadapan dengan sebuah peristiwa yang menurut mereka buruk. Keputusasaan menghantui hidup mereka. Sesuai fitrah, kenyataannya manusia tidak henti-hentinya mencari kedamaian dan kenyamanan hidup dari penderitaan fisik dan spiritual yang disebabkan oleh kesulitan, stress, dan kesedihan. Namun kepedihan, tekanan, dan keputusasaan yang ditimpakan kepada seseorang yang tidak yakin kepada Allah atau tidak mencoba melihat kebaikan dalam apa yang menimpanya, akan sangat mengganggu hidupnya. Ia tidak akan dapat membebaskan dirinya dari ketakutan akan masa depan, kematian, dan kemiskinan.
Keselamatan manusia hanyalah didapat dengan mengingat bahwa Allah menciptakan setiap kejadian demi tujuan-tujuan Ilahiah dan kebaikan tertentu. Seorang mukmin meyakini keimanannya kepada Allah dengan sebenar-benarnya iman, karena ia memahami hal tersebut. Ia bersikap sebagai hamba sejati bukan hanya karena ia bertahan dalam keadaan ini, tetapi ia menjalaninya dengan penuh kesabaran. Selalu berusaha dekat dengan Allah, berdo’a, dan meyakini-Nya, serta berharap bahwa segalanya datang dari Allah, adalah merupakan sifat-sifat istimewa orang-orang beriman.
Di dunia ini, tempat dimana kita menunggu dibukanya gerbang surga, seorang mukmin menghadapi berbagai macam keadaan sebagai bagian dari cobaan hidupnya. Selama cobaan ini, ia memimpin dirinya dengan tanggung jawab kepada Allah dan berusaha keras untuk mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya. Ia menjauhi nereka, takut kepada Allah, dan melihat kebaikan dalam segala yang terjadi pada diri dan sekitarnya. Walaupun misalnya ia tidak dapat melihat kebaikan itu, ia selalu ingat bahwa Allah-lah yang mengetahui segalanya, bagaimanapun keadaannya. Seorang mukmin adalah suatu zat yang telah diturunkan ke dunia dari surga melalui ketiadaan waktu. Itulah dalam pandangan Allah. Di sinilah ia tinggal untuk jangka waktu yang singkat, sampai ia diijinkan Allah untuk masuk ke dalam peristirahatan terakhirnya. Allah mengatakan kepada kita tentang sebuah peritiwa yang pasti akan terjadi pada hamba-Nya yang takut pada-Nya dan selalu melaksanakan tugas-tugas dari-Nya.

“Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombongan-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’ Dan mereka mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhijanji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.’ Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’” (az Zumar: 73-75)

Allah itu Maha Kuasa dan punya perencanaan atas segala tindakan-Nya. Namun makhluq sekecil manusia sama sekali tidak mungkin bisa memahami semua program Allah itu. Lagi pula Allah sama sekali tidak pernah menugaskan manusia untuk memikirkan sosok Allah dan segala rencananya. Apalagi untuk mengetahui bahwa suatu hal itu termasuk rencana Allah atau bukan. Jelas manusia tidak punya akses.

         Tugas manusia adalah bekerja dan berusaha. Dan dengan demikian, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bekerja, sebab bekerja adalah perintah Allah. Kita tidak bisa mengatakan bahwa hari ini saya tidak mau mencari nafkah, dengan alasan kalau Allah sudah mentakdirkan, pastilah rejeki datang sendiri.

         Ini adalah logika orang yang syirik, sebab dari mana dia tahu bahwa Allah mentaqdirkan atau tidak. Sedangkan Allah sendiri sudah memerintahkan kita untuk bekerja. Artinya rejeki itu hanya akan datang kalau kita bekerja.

         Namun di luar dimensi logika sederhana manusia, kita tetap yakin bahwa Allah telah merancang semua kejadian di dunia ini dengan sangat detail dan rapi. Tapi bukan urusan kita untuk menentukan apakah Allah mengendaki sesuatu atau tidak.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab

Read more...
separador

Wednesday, March 24, 2010

Open Recruitment Kepengurusan KIAS 12 Jakarta

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

"Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada kemakrufan, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
[QS. Ali Imran: 104]
Jama'ah adalah sarana yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan orang-perorang. Kehebatan dan kecerdasan individu tidak akan pernah mengalahkan kecerdasan dan kehebatan kolektif. Dari sini, diharapkan timbul kesadaran bahwa tidak ada orang yang dapat melakukan segalanya atau menjadi segalanya.

Bersama dengan email ini telah dibuka:


OPEN RECRUITMENT KEPENGURUSAN KIAS 12 JAKARTA PERIODE 2010-2011 M/1431-1432 H

Syarat Calon Pengurus:

  • Terbuka untuk seluruh muslim alumni SMAN 12 Jakarta yang tertarbiyah atau bersedia ditarbiyah (mengikuti kegiatan mentoring/halaqah/liqo)
  • Bersedia mengikuti alur rekrutmen KIAS 12 Jakarta (FPT & Team Building yang insya Allah akan diselenggarakan pada: Jum'at, 2 April 2010. Tempat menyusul )
  • Berkomitmen untuk menyukseskan Dakwah SMAN 12 Jakarta

Caranya, ketik:


CP KIAS12#nama lengkap#nama panggilan#ikhwan/akhwat#angkatan#bidang yang diminati (struktur KIAS 12 terlampir bersama email ini).

Kirim ke:
0856 971 585 23

Jika Antum tergabung dalam jejaring sosial FaceBook, dapat pula mengunjungi Grup FaceBook "ROHIS-KIAS 12 Jakarta"

OR ini akan ditutup pada:

Rabu, 31 Maret 2010


So, Fastabiqul Khairat!!
Kami tunggu kontribusi Antum dalam ranah Da'wah sekolah kita tercinta..



_______________________________________________________________________________________________

Srtuktur KIAS 12 Jakarta Periode 2010-2011 M/1431-1432 H

Mas-ul: Akhuna Benni Zulmardi

Sekretaris

   Mengelola segala hal yang berkaitan dengan arsip-arsip (kesekretariatan) KIAS 12 Jakarta

Bendahara
   Mengelola keuangan KIAS 12 Jakarta

Biro Maisyah
   Mencari dan mengelola pemasukan (sumber dana potensial) bagi KIAS 12 Jakarta

Dept. Thulaby, terbagi atas:


  @Divisi Syi'ar
           Bekerjasama dengan siswa untuk menyemarakkan syi'ar Islam di SMAN 12 Jakarta

  @Divisi Nukhbawi (Kaderisasi)
           Bekerjasama dengan siswa dalam hal rekrutmen SDM aktivis

Dept. Tarbawi 
   Mengelola kegiatan tarbiyah (mentoring) di SMAN 12 Jakarta





Salam Jihad dan Semangat!!















"Barisan Jihad"
Munsyid : Izzatul Islam

Barisan jihad pemuda Islam
Baris maju mara kehadapan
Bersama seruan Allahu Akbar
Allahu Akbar, Allahu Akbar

Jadi syuhada itulah idaman
Menyambut panggilan utusan Allah
Tegakkan keadilan demi kebenaran
Hancurkan kemungkaran sepanjang zaman

Berbekal niat yang suci
Tegak tuhid diwajah bumi
Allah semata penentuan
Ridho-Nya murka-Nya tuk acuan
Segala kemampuan penuh kesungguhan
Hancurkan halangan melaju kedepan

Biar basah di bumi Allah
Dengan darah para syuhada
Biar merah berlumuran darah
Pantang mundur walau selangkah

Allahu akbar, Allah Maha besar
Majulah wahai barisan jihad
Ummat mulia warisan anbiya
Cintakan akhirat zuhudkan dunia
Read more...
separador

Tuesday, March 16, 2010

Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami


(M. Lili Nur Aulia)

Untuk saudara-saudara kami di jalan dakwah , tulisan ini adalah catatan kecil dari perjalanan panjang kita. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan ketundukan kepada Allah SWT atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan ini. Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah telah memilih kita berada di jalan ini. Allah SWT telah mengistimewakan kita menerima nikmat berjama’ah dan ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah SWT. Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta maupun ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah SWT Yang Maha Rahman, Yang menuntun langkah kita hingga sampai di sini, di jalan ini, pada detik ini. Allah SWT berfirman : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imran : 103)
Nikmat ini tidak boleh direndahkan, diremehkan apalagi dipermainkan. Kita harus menjaga dan memelihara nikmat yang teramat agung ini. Dan kita wajib merasa khawatir andai nikmat itu hilang.
“ Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). “ (QS Ali Imran : 8)

Dari Sini Kami Memulai
“ Jalan Dakwah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan dakwah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup di dunia dan di akhirat “.

Mengapa Berada di Jalan Dakwah ?
 Kami ingin seperti para pendahulu kami di jalan ini yang telah banyak memperoleh pahala dan keridhaan Allah karena peran-peran dakwahnya. Dan karena itulah, kami memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat kami. Tidak heran, jika para penyeru kebaikan, menjadi alasan turunnya limpahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Tak ada makhluk Allah yang dapat dukungan dan do’a seluruh makhluk-Nya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berdakwah. Sebagaimana sabda Rasululllah SAW, “ Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di dalam lubangnya, bahka ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mnegajarkan kebaikan kepada manusia. “ (HR. Tirmidzi)

Allah SWT menjelaskan tiga kelompok manusia dalam masalah ini. Mereka adalah, kelompok penyeru dakwah yang salih, kelompok salihin tapi tidak menyerukan dakwah dan orang-orang yang mengingkari dakwah. Allah SWT berfirman : “ Dan (ingatlah) ketika suatu kaum di antara mereka berkata: “ Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “ Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa. “ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. “ (QS. Al A’raf 164-165)

Nash Al-Qur’an itu merupakan peringatan bagi kami. Bahwa meninggalkan peran dakwah, tidak pernah diterima apapun alasannya. Bahkan bisa jadi sikap tersebut menundang kemarahan Allah (Musafir fi Qithari ad Da’wah, Dr. Abdil Abdullah Al Laili, 195).

Ada pula hadits Rasulullah SAW yang lainnya, Abu Bakar RA mengatakan, “ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah SWT dengan azab-Nya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Teman-Teman Pilihan
Hendaknya teman yang menemaninya dalam perjalanan itu adalah orang yang bisa membantunya dalam menjalankan prinsip agama, mengingatkannya tatkala lupa, membantu dan mendorongnya ketika ia tersadar. Sesungguhnya orang itu tergantung agama temannya. Dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya....” (Ihya ‘Ulumiddin, 2/202)
Kami dan Amal Jama’i
Realitas yang kami lihat sendiri bahwa manusia cenderung akan menjadi lemah ketika bekerja seorang diri.. Sebaliknya akan menjadi kuat dan berdaya ketika ia besama-sama dengan yang lain. Ada juga realitas lainnya, bahwa siapapun yang berusaha mewujudkan sesuatu, meskipun mereka telah ikhlas dalam melakukannya, tetapi tidak akan banyak memberi pengaruh untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan jika ia melakukannya sendirian. Kesendiriannya itu menyebabkan upaya yang mereka lakukan menjadi lemah dan minim efeknya.

Bekerja untuk Islam mutlak memerlukan sebuah organisasi, perlu adanya pimpinan yang bertanggung jawab, membutuhkan adanya pasukan dan anggota yang taat, harus memiliki peraturan mendasar yang mengikat dan menata hubungan antara pimpinan dan anggota, harus ada yang membatasi tangung jawab dan kewajiban, menjelaskan tujuan dan sarana serta semua yang diperlukan oleh suatu aktifitas dakwah dalam merealisasikan tujuannya. Dalam kebersamaan itulah kami menempuh jalan dakwah ini.
Perjalanan ini Mutlak Memerlukan Pemimpin
Hendaknya suatu perjalanan dipimpin oleh orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut dengan teman-temannya, paling mudah terketuk hatinya dan paling mungkin dimintakan persetujuannya untuk urusan penting. Seorang pemimpin dibutuhkan karena pandangannya yang beragam untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Alam ini menjadi teratur karena pengatur alam semesta ini adalah satu.” (Ihya Ulumiddin, 2/202)

Kami telah mempercayai para pemimpin itu sebagai pemandu perjalanan kami. Maka, setelah proses syuro berlangsung, apapun keputusannya, itulah yang akan kami pegang untuk dijalankan. Kami yakin, keputusan syuro itu tidak pernah keliru. Dan keputusan itu bersifat Multazam (Mengikat).

Meskipun mungkin saja akibat pelaksanaan satu keputusan syuro memunculkan situasi yang tidak maslahat. Tapi sebuah keputusan yang dilandasi dengan syuro tidak pernah salah. Itulah yang juga disampaikan kepada kami oleh Ustadz Sa’id Hawa rahimahullah, bahwa hasil syuro tidak pernah salah. Karena mekanisme itulah yang dijabarkan oleh Islam untuk menentukan langkah yang dianggap paling benar. Jika pada akhirnya, keputusan itu ternyata tidak memberikan kesudahan seperti yang diharapkan, maka proses syuro kembali yang akan menindaklanjuti kekeliruan itu.

Jalan ini, Miniatur Perjalanan Sesungguhnya
Kebersamaan kami bukan tanpa perselisihan. Boleh jadi ada di antara kami yang mengalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal. Padahal, keharusan kami untuk bersama dan kemungkinan kami berselisih, adalah dua kutub yang saling berlawanan. Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakan, kesesuaian, kedekatan dan keintiman. Sementara perselisihan bisa mengaktifkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian, hingga keterpisahan.

Tiga Karakter Penempuh Perjalanan
Kelompok Zaalimun Li Nafsihi, adalah orang-orang yang lalai dalam memepersiapkan bekal perjalanan. Mereka enggan untuk mengumpulkan apa-apa yang membuatnya sampai tujuan.

Kelompok Muqtashid, adalah mereka mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa sampai ke tujuan perjalanan. Mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimilki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu, yang menyulitkan perjalanannya.

Kelompok Saabiqun Bil Khairaat, yakni orang-orang yang obsesinya adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Mereka membawa perbekalan dan barang dagangan lebih dari cukup karena mereka tahu hal itu akan memberi keuntungan besar baginya. Selain itu mereka juga tahu bahwa di tengah perjalanan ini, sangat mungkin mereka mengalami situasi sulit yang membutuhkan perbekalan tambahan.  (Thariqul Hijratain, 236).

Begitu pentingnya, bekal ketaqwaan yang erat kaitannya dengan modal ruhiyah kami di jalan ini, maka setiap kali ketaqwaan kami melemah, pada saat itu intensitas dakwah kami menurun. Dan ketika tingkat ketaqwaan kami berkurang dari seharusnya, ketika itulah kami mengalami situasi futur (kelemahan) untuk meneruskan perjalanan ini. Seperti itulah pelajaran yang kami temukan dalam diri kami, dan juga saudara-saudara kami di jalan ini.

Ketika Kami Membangun Kebersamaan
“Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.”

Menjadi Batu Bata dalam Bangunan ini
Kebersamaan kami di jalan ini adalah karena kehendak kami untuk ambil bagian dalam bangunan besar ini. Maka, sebagaimana proses membangun sebuah bangunan pada umumnya, tukang batu pasti akan memilah-milah batu bata mana yang akan ia tempatkan pada bangunannya. Tak semua batu bata diletakkan pada posisi yang tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada di bawah. Bahkan terkadang si tukang batu, akan memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.

Batu Bata yang Unik dan Khas Jalan ini
Para sahabat dan salafus sholeh menerima dan mengejar kekhususan itu agar memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Di jalan dakwah ini, kami memiliki saluran yang amat banyak untuk mewujudkan kekhususan yang kami miliki dengan berkontribusi di jalan ini. Kami memetik hikmah dari perjalanan mereka, dan kami berharap semoga jalan dakwah ini bisa memproses kami hingga kami memiliki amal-amal unggulan yang menjadi keistimewaan kami di sisi Allah melalui jalan ini.

Untuk Menolong, Bukan Ditolong
 Sesungguhnya di jalan inilah kami semakin mendalami makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain. Kehidupan seseorang menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan kehidupan akan menjadi miskin makna dan rendah nilainya ketika hanya banyak bermanfaat bagi lingkup pribadi. Filosofi inilah yang menyebabkan kami menikmati kesibukan berpikir dan melakukan banyak aktifitas dakwah di antara kesibukan lain yang menyertai kami. Di sini, kami lebih merasakan pengaruh firman Allah “ Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia (Allah) menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian.” (Muhammad 9)
Kebersamaan Kami Terikat Lima Hal
Pertama, Rabithatu al ‘aqidah (Ikatan Aqidah). Tali ikatan aqidah islamiyah yang menyatukan kami dengan jalan ini. Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara-saudara kami di sini.

Kedua, Rabithatu al fikrah (ikatan pemikiran). Sejak awal, kebersamaan kami di jalan ini memang dibangun oleh kesamaan cita-cita dan pemikiran. Kami disatukan oleh kesamaan ide, gagasan, keinginan dan cita-cita hidup yang kami yakini merupakan sarana yang bisa menyampaikan kami kepada keridhaan Allah SWT.

Ketiga, Rabithatu al ukhuwwah (ikatan persaudaraan). Tak ada yang melebihi warna jiwa kami setelah keimanan kepada Allah, kecuali suasana persaudaraan karena Allah SWT di jalan ini. Kami di jalan ini, terikat dengan ruh persaudaraan yang tulus. Ruh persaudaraan yang tersemai melalui kebersamaan kami berjalan dan memenuhi banyak tugas-tugas dakwah yang kami jalani. Kami berharap, persaudaraan kami di jalan ini adalah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah, tentang golongan orang-orang yang dinaungi Allah di hari kiamat. Di mana salah satu golongan itu adalah : Orang yang saling bercinta karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah SWT.

Keempat, Rabithatu at tanzhim (ikatan organisasi). Perencanaan dan keteraturan langkah-langkah kami di jalan ini, sudah tentu menandakan kami harus pula memiliki sebuah organisasi yang mengatur kami. Dalam organisasi dakwah ini, berlakulah ketentuan sebagaimana orang yang bekerja di dalam sebuah perusahaan, dan harus terikat dengan ragam peraturan yang diberlakukan. Seperti itulah kebersamaan kami di jalan ini.

Kelima, Rabithatu al ‘ahd (ikatan janji). Dijalan ini, kami masing-masing telah mengikrarkan janji. Janji yang paling minimal adalah janji yang tercetus dalam hati kami, dalam diri kami sendiri, kepada Allah SWT. Atau bahkan, juga janji kepada saudara-saudara perjalanan untuk tetap setia dan mendukung perjuangan. Kami terikat dengan dua jenis janji itu.

Yang Melemahkan Ikatan dalam Amal Jama’i
Mengetahui sebab-sebab orang yang meninggalkan amal jama’i bukan perkara mudah. Terlebih bila yang bersangkutan tidak berterus terang tentang latar belakang sikapnya. Perlu pendekatan yang bertahap, sungguh-sungguh, hingga akhirnya bisa ditemukan penyebabnya dan dicarikan jalan keluarnya.

Dalam hal ini, tentu saja musharahah (keterusterangan) serta kejujuran menjadi penting bagi kami dan saudara-saudara kami. Sesungguhnya kepercayaan antara kami akan semakin terbentuk kuat dengan adanya keterusterangan ini. Dari keterusterangan, semua persoalan bisa dicari pangkal masalahnya.

Tsiqah, sebagai Maharnya
Jika kesatuan barisan umat ini dibangun dengan mempersatukan keyakinan, mempersatukan hati, mempersatukan niat, mempersatukan tujuan, dan mempersatukan manhaj (jalan hidup), yang semuanya mengacu pada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kebangkitan dan kemenangan umat Islam akan semakin dekat kita raih.
Promosi Penempatan di Jalan Dakwah
Pertama, kami harus bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri. Mengapa kami di sini? Untuk siapa amal yang kami lakukan? Dan apa yang kami kehendaki dengan amal ini? “ Barang siapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka orang itu berada di jalan Allah.”

Kedua, kami harus menunaikan tugas yang telah dibebankan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ketidakpuasan terhadap posisi tertentu membuat malas menunaikan tugas dan kewajiban.

Ketiga, kami harus membiasakan untuk menunjukkan keahlian dan memperkenalkannya dengan baik kepada pemimpin dan saudara-saudara di jalan ini. Tidak memendam pendapat yang menurut kami bermanfaat, meskipun pendapat pimpinan berbeda.

Keempat, terus terang kepada sesama saudara dan pimpinan tentang permasalahan yang ada kaitannya dengan dakwah dan mengusik. Garis lurus itu biasanya lebih dekat dengan kedua titik. Maka ketika kami mengeluarkan uneg-uneg, garis itu menjadi lurus dan membuat kami tenang. Di samping itu, permasalahan menjadi jelas bagi semuanya. Namun jika masalah itu dipendam, tentu kegundahan kian membesar dan bercabang sehingga syetan pun beraksi untuk membesarkannya lagi dengan godaan dan bisikannya. Kami jadi terbakar dari dalam. Lalu hal itu akan mengganggu keimanan dan kejiwaan kami.

Kelima, selalu berharap kepada Allah melalui doa dalam sholat, sujud dan waktu-waktu mulia agar dikaruniakan amal salih yang mendekatkan kita kepada-Nya. Juga agar Allah menuntun kita untuk melakukan kebaikan, kebenaran, dan merubah kami menjadi lebih baik. Agar kami diselamatkan dari fitnah kedudukan dan kepemimpinan di mana kami tidak mampu menunaikannya.

Perjalanan Beraroma Semerbak
“ Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jamaahnya sendiri-sendiri. Dan setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh al-haq, maka ia akan tercerai berai oleh kebatilan. “

Indahnya Kebersamaan di Jalan Dakwah
 Boleh saja orang menganggap keterikatan kami di jalan ini, membawa kerugian materiil untuk kami. Itu karena mereka melihat, banyak energi yang kami kontribusikan untuk kepentingan perjuangan kami di jalan ini. Silahkan saja, jika ada orang yang memandang kami sebagai orang yang tak beruntung karena meluangkan banyak rentang waktu untuk kepentingan orang lain, sementara diri kami sendiri tampak belum mapan. Tapi sebenarmya, melalui jalan ini, kami justru mendapatkan suatu hal yang lain.

Kewajiban Memang Lebih Banyak dari Waktu
Kami mengerti, tanpa terget-target seperti ini dan tanpa evaluasi yang dilakukan bersama saudara-saudara kami di jalan ini, kami akan terbunuh oleh waktu luang yang kami miliki. Kami juga mengerti bahwa tanpa hambatan kegiatan dakwah yang kami dapatkan di jalan ini, waktu-waktu hidup kami menjadi lebih mungkin terisi dan disibukkan oleh urusan-urusan yang bathil. Karena itulah jalan dakwah telah menolong kami.

Agenda di jalan dakwah begitu banyak mengisi hari-hari kami. Sampai-sampai, tidak sedikit para penempuh jalan ini, yang merasakan kurangnya jumlah hari dalam satu pekan, disebabkan banyaknya kegiatan yang akan mereka lakukan. Di jalan dakwahlah kami lebih mengerti dan menghayati ungkapan Imam Hasan Al Banna rahimahulullah, “al waajibaat aktsaru minal awqaat”. Bahwa kewajiban itu lebih banyak ketimbang waktu yang tersedia.

Memetik Buah Manfaat dari Kelebihan Saudara
Maka, di jalan inilah kami lebih tajam membaca variasi kelebihan-kelebihan itu. Di jalan ini kami merasakan pantulan cermin dari keistimewaan itu, dan mencoba menghayati sabda Rasulullah SAW tentang pintu-pintu surga.

Atmosfer Kesalihan dari Saudara Shalih
Pertemuan kami dengan mereka, ternyata membawa pengaruh ruhaniyah yang begitu hebat. Kami bisa merasakan suplay energi ruhiyah yang besar saat kami bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Kami merasakan adanya suasana batin yang baru, yang mendorong dan memotivasi kami untuk lebih banyak melakukan amal-amal shalih. Perasaan itu, bahkan muncul tanpa mereka harus memberikan nasihat dan tausiyahnya untuk kami. Karena kami sudah biasa merasakan pengaruh aura keshalihan itu, sejak kami melihat, mendengar suara mereka. Sebagaimana Yunus bin Ubaid mengakui kenikmatan besar ketika melihat Al Hasan Al Bashri rahimahulullah. Ia mengatakan “Seseorang bila melihat kepada Al Hasan Al Bashri, akan menerima manfaat dari dirinya, meski orang itu tidak melihat Al Hasan Al Bashri beramal dan tidak melihat ia mengeluarkan ucapan apapun.” (Risalah Al Mustarsyidin, Abi Abdillah Al Haris Al Muhasibi, Hal.60).

Amal Shalih yang Tersembunyi
Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan.
Kedua, ketika dalam perkumpulan itu pembicaraan dan pergaulan antar mereka melebihi kebutuhan.
Ketiga, ketika pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-id, 60).

Pemimpin yang adil, orang yang hatinya terkait dengan mesjid ketika ia sedang berada di luar masjid sampai ia kembali ke masjid, dua orang yang saling mencinta karena Allah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, orang yang berdzikir kepada Allah dalam kondisi seorang diri hingga kedua air matanya menangis, orang-orang yang dipanggil oleh seseorang wanita kaya dan cantik tapi orang tersebut mengatakan: “ Sesungguhnya aku takut kepada Allah rabbul ‘Alamiin”, dan orang yang bersedekah tapi ia menyembunyikan amalnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (HR Bukhari Muslim).

Amal Shalih Harus Tetap Ditampilkan
Pertama, amal-amal shalih yang diperintahkan Allah swt tidak boleh terhalang karena kekhawatiran riya. Allah swt tetap memerintahkan amal salih itu tetap dilakukan, dengan tetap berupaya ikhlas saat melakukannya.
Kedua, prinsip yang dipegang para salafushalih, adalah penilaian atas yang lahir, tidak menghukumi yang tidak terlihat. Seperti perkataan Umar bin Khattab ra, “Barang siapa yang kami lihat ia melakukan kebaikan, maka ia akan kami sukai. Dan barang siapa yang kami lihat ia melakukan keburukan, kami benci. Meskipun ia mengatakan bahwa dibalik yang lahir itu adalah kebaikan.”
Ketiga, keraguan menampilkan dan melakukan amal-amal shalih karena riya, akan menambah tekanan bagi orang-orang yang melakukan amal shalih.
Keempat, tuduhan dan anggapan bahwa kebaikan adalah riya, adalah perilaku orang-orang munafiq. 

Membina Orang Lain Sama dengan Diri Sendiri
Tapi di sisi lain, ternyata interaksi kami dalam jalan dakwah dan upaya kami mengkader serta membina para objek dakwah, mengharuskan kami untuk terus bercermin dan berhati-hati. Kami tidak boleh ceroboh dan mudah melemah. Karena kami tahu dan semakin menyadari bahwa keberhasilan dakwah selalu merupakan turunan dari adanya qudwah dalam kaderisasi dakwah yang kami jalankan. Pelajaran ini bukan hanya kami pelajari dari teori “An naas ‘alaa diini muluukihim” (manusia itu tergantung agama rajanya), tapi kami rasakan langsung dalam aktifitas dakwah dan pembinaan. Maka dari sinilah kami memperoleh pelajaran besar dari keberadaan kami di jalan dakwah. Mendakwahkan orang lain, pada dasarnya adalah mendakwahkan diri sendiri. Menasehati orang lain adalah pada dasarnya menasehati diri sendiri. Membina orang lain di jalan ini, sama dengan membina diri sendiri.

Berpikir Negatif Melemahkan dan Menghancurkan Semangat
Kami berusaha membicarakan yang baik-baik tentang saudara-saudara kami. Dan berupaya meminimalisir pembicaraan tentang aspek negatif tentang saudara-saudara kami. Sebagaimana ribuan halaman dan ratusan jilid kitab para ulama yang menceritakan kehidupan para sahabat Rasulullah saw serta salafushalih, yang sangat sedikit menceritakan sisi negatif kehidupan mereka, kecuali dalam konteks memberi ibrah dan pelajaran berharga. Para salafushalih, sangat jarang membicarakan kekurangan sahabat dan orang-orang yang mereka kenal. Tentu bukan karena mereka adalah orang-orang suci yang tidak mempunyai catatan negatif, tapi seperti itulah salah satu wujud persaudaraan para salafushalih. Dan karena sikap mereka itulah, yang memompa keyakinan kami serta mendorong semangat dakwah kami.

Ketika Melewati Jalan Mendaki
Begitulah, jalan dakwah ini mengajarkan bahwa sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan.

Mengkaji yang Tersirat dari yang Tersurat
Tapi, pelajaran dakwah ini mengajarkan kami, bahwa langkah pertama yang kami lakukan saat kami mendapatkan situasi yang tidak kondusif dalam kebersamaan ini adalah, memeriksa diri kami terlebih dahulu. Kami tidak mensakralkan kelompok tertentu, atau individu tertentu, tapi kami juga tidak terbiasa meratakan kesalahan atas seluruh kelompok anggota tertentu. Tidak semua individu dalam satu kelompok harus bertanggung jawab atas kekeliruan beberapa individu dalam kelompok tersebut, meskipun kelompok yang keliru itu adalah termasuk jajaran pimpinan di dalamnya. Kami tidak berdiri di atas prinsip “pemimpin selalu benar”. Maka, disaat kami atau ada saudara-saudara kami merasakan kekecewaan bahkan kebencian karena perilaku saudara-saudaranya yang lain di jalan ini, hendaknya tidak menggeneralisir kekeliruan itu pada seluruh individu dalam perjalanan ini. Tidak semua mereka melakukan kesalahan, karena mungkin sekali itu adalah kesalahan individu yang bisa dihitung oleh jari tangan. Dan itu jugalah yang terjadi di zaman sahabat radiyallahu anhu. Kesalahan individu mereka juga tidak melepaskan kehormatan dan kemuliaan generasi sahabat secara keseluruhan yang penuh dengan kebaikan bahkan menjadi simbol keutamaan generasi yang terbaik.

Begitulah, jalan dakwah ini menhajarkan kami sebaiknya kami melihat kepada diri kami terlebih dahulu, melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan kesalahan itu kesalahan. Dan jika keburukan yang kami duga itu benar, maka kami harus menempuh mekanisme penyampaian nasihat dengan baik dan benar. Dengan memilih kalimat yang baik, memilih waktu dan tempat yang tepat, menampakkan rasa cinta dan keikhlasan yang tulus, dan semacamnya.

Antara Objektivitas dan Sakralisme
Menghadapi kemungkaran yang terjadi dalam sebuah organisasi dakwah harus dilakukan secara bertahap, terprogram dan diteliti permasalahannya. Bukan dengan mengembangkan wacana untuk meninggalkan organisasi dakwah yang sebenarnya kami yakin bahwa organisasi itu merupakan jalan kebenaran. Jalan kebenaran tidak boleh kami tinggalkan dengan alasan adanya personil yang tidak sejalan dengan misi kebenaran itu. Karena kami menyimpulkan bahwa lari dari kewajiban meluruskan dan memperbaiki, dengan meninggalkan jamaah dakwah, itu sama sekali tidak memberi maslahat untuk mengusir kerusakan yang ada. Situasinya mirip dengan seseorang dokter yang lari meninggalkan tugas mulianya mengobati pasien yang sedang sakit.

Kesalahan adalah Resiko sebuah Aktivitas
Kesalahan substansial justru terjadi ketika seorang dai mundur dari aktivitas dakwah dan berdiam diri dengan alasan memelihara diri agar tidak menyeleweng dari ajaran Allah. Padahal sebenarnya kemunduran dan diamnya adalah kesalahan dan penyelewengan dari ajaran Allah SWT. Tentu saja kekeliruan itu tetap kami sikapi secara benar. Dalam arti, kekeliruan seorang saudara harus diluruskan dengan adab dan cara-cara yang baik. Dengan tujuan baik, metode yang baik, obkjektivitas dan dengan kelapangan dada di antara kami (penasehat maupun yang dinasehati).

Mundur dari Dakwah, Mungkinkah???
Jika olahragawan bisa mengalami masa pensiun karena usianya yang renta dan kekuatan fisiknya yang melemah. Jika seorang pegawai akhirnya menemui saat pensiun karena usianya telah melewati batas ketentuan umum kepegawaian. Jika seorang artis harus meninggalkan pentas karena keterampilan dan keindahan aktingnya telah digerogoti usianya. Tapi para juru dakwah, tidak mengenal kamus pensiun dan berhenti dari panggung dakwahnya. Kami dan saudara kami di jalan ini tidak mengetahui ada kondisi yang mengharuskan kami mundur dari gelanggang dakwah karena faktor usia, kemampuan fisik yang menurun, pikiran yang sulit difungsikan secara maksimal, atau bahkan karena kondisi eksternal yang memaksa kami untuk mundur. Singkatnya, kondisi apapun tidak akan menyebabkan kami ‘uzlah atau pergi meninggalkan jalan ini.

Nasihat adalah Tiang Penyangga
Nasihat, kritik, teguran, aspirasi, benar-benar kami perlukan di jalan ini. Siapapun kami. Kami tidak membayangkan andai perjalanan ini berlalu tanpa ada teguran, nasihat, kritik, yang sampai kepada kami. Sesungguhnya mendegarkan nasihat, teguran, maupun kritik itu adalah pahit. Tapi keberadaannya seperti seseorang memakan obat yang tidak enak. Sedangkan manfaatnya adalah pelurusan dan keinsyafan. Sesungguhnya hak yang wajib ditunaikan dari persaudaraan adalah bersungguh-sungguh menyampaikan nasihat dan saling melarang yang tidak baik untuk memelihara kebenaran di antara dua saudara.

Demikianlah, keterpeliharaan persaudaraan kami justru ditopang oleh nasihat. Jika kami mengabaikan nasihat, persaudaraan kami justru akan mudah hancur. Kami di jalan ini, harus berusaha lapang menerima kritikan, masukan, nasihat, dari sesama saudara. Dan kami di jalan ini, juga harus mampu menyampaikan nasihat, kritikan, masukan dengan adab-adabnya untuk saudara-saudara kami.

Kesejukan yang Meringankan Langkah
Keletihan itu, akan menjadi beban ketika kami merasakannya sebagai keletihan fisik yang tidak diikuti oleh keyakinan ruhiyah. Maka sesungguhnya kesempitan di jalan ini, pasti menyimpan hikmah luar biasa yang akan tercurah dalam bentuk rahmat Allah swt.

Saling berdo’a di antara sepi
Jalan dakwah membawa kami tiba di sebuah komunitas do’a. Perkumpulan orang-orang beriman yang saling mendo’akan. Di mana kami mendo’akan saudara-saudara kami. Kemudian saudara-saudara kami pun mendo’akan kami. Inilah persekutuan do’a yang luar biasa, karena kami semua memerlukan do’a dari siapapun, terlebih orang-orang beriman dan shalihin. Kami yakin dengan firman Allah swt. “ Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya (QS Asy Syu’ara : 26).

Keberkesanan Membaca Sirah Orang-orang Shalih
Keterpengaruhan ini sesungguhnya sulit dirasakan oleh mereka yang tidak berada di jalan dakwah. Di antara kami, ada yang sungguh-sungguh tenggelam dalam alur perjuangan mereka sehingga memotivasi kami secara kuat untuk terus berjalan dan melanjutkan perjuangan mereka di atas jalan dakwah. Kami merasakan bahwa apa yang kami alami, adalah bagian dari mata rantai perjuangan yang juga mereka perjuangkan. Jengkal demi jengkal langkah kami, seperti bagian dari perjalanan panjang para pejuang itu hingga menjadikan kami kuat dan bertahan untuk melanjutkan perjalanan.

Kesulitan yang Menambah Kekuatan
Imam Hasan Al banna menjelaskan tentang karakteristik pejuang dakwah adalah orang-orang yang tidak tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas mulutnya, tertawa selebar rahangnya dan menunaikan waktunya dalam senda gurau permainan yang sia-sia. Jika itu yang terjadi, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang atau orang-orang yang tercatat sebagai barisan mujahidin. Aku bisa menggambarkan karakter seorang mujahid adalah orang yang telah menyiapkan perbekalan dan persiapannya, yang selalu memikirkan terhadap dakwah yang ada di setiap sudut jiwanya, dan memenuhi relung hatinya. Ia selalu dalam kondisi berfikir, sangat perhatian untuk berdiri di atas kaki yang siap sedia. Jika diseru ia menjawab atau jika dipanggil ia memenuhi panggilan. Langkahnya, ruhnya, bicaranya, kesungguhannya, permainannya selalu berada dalam lingkup medan dakwah yang ia persiapkan dirinya untuk itu.

Bangga dengan Amal Shalih
Kami memperhatikan sabda Rasulullah saw yang memuji kehadiran orang-orang aneh. “Pada awalnya Islam datang sebagai sesuatu yang aneh dan akan kembali menjadi sesuatu yang aneh . Maka beruntunglah orang-orang yang aneh (al ghuraba). “ Para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang aneh itu, wahai Rasulullah?” Ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia berada di dalam kerusakan.” (HR. Muslim).
Menjadi hiduplah nasihat Ustadz Mushtafa Mahsyur dalam jiwa kami. “Jika anda ragu bekerja karena gentar menghadapi kritikan, pasti anda tidak akan bisa bekerja selama-lamanya. Tetapi kerjakanlah apa yang anda yakini kebenarannya, jelas kegunaannya, diridhai oleh Rabbmu dan terpuji di kalangan para ulama yang ikhlas, meskipun anda dibenci dan dimaki sepanjang hidupmu oleh para pendengki, tetapi di antara mereka pasti ada yang senang kepada anda setelah anda meninggal dunia (Mushtafa As Siba’i, Hakadzaa allamatni al hayaah).

Potensi Besar yang Tersingkap di Jalan Ini
Berapa banyak di antara kami, yang sebelumnya merupakan pribadi yang tak menghargai diri dan tidak mengenal potensi dirinya, tapi kemudian di jalan ini kami menemukan perkembangan potensi diri yang lain, yang sangat kami syukuri. Kedekatan kepada Allah di jalan ini telah membuka saluran-saluran amal dan kontribusi kebaikan yang begitu banyak, lalu membuka kesempatan kami melakukan kebaikan apapun sesuai potensi yang ada. Kami tidak membayangkan, apa jadinya kami bila tidak berada di jalan ini.

Bergerak Karena Diri Sendiri Bukan Orang Lain
Tidak, Kami adalah da’i yang telah memilih jalan dakwah ini sebagai pijakan kaki kami. Sosok figur mungkin saja mempesona kami untuk lebih giat melakukan banyak kontribusi di jalan ini. Tapi bukan itu yang dominan dalam hati kami. Sosok figur juga bisa melakukan kesalahan, dan kesalahan itu juga tidak membuat kami tertahan atau meninggalkan jalan ini. Karena kami telah memilih untuk melangkah di atas kaki kami sendiri, di atas pemahaman dan keyakinan lubuk hati kami sendiri. Ya, sekali lagi, karena kami sendiri yang telah memilih jalan ini.

Peristirahatan, Bernama Terminal Canda
Menempuh perjalanan dakwah, meninggalkan pelajaran pada kami tentang kebutuhan jiwa untuk beristirahat dan tertawa, namun tetap pada porsi dan batasan etikanya. Pertemuan kami dengan sesama saudara di jalan ini, hampir selalu diwarnai dengan senyum dan tertawa. Meskipun begitu, pembahasan yang memerlukan keseriusan berpikir dan ketegasan berpendapat, tidak terganggu oleh dinamika canda dan tertawa kami. Kami merasakan, canda-canda yang berkembang di antara kami bisa memberi energi baru yang mencerahkan jiwa dan pikiran. Bahkan bisa juga berfungsi untuk menghilangkan kebekuan, mencairkan hubungan, mendekatkan kembali ikatan batin yang mungkin saja mulai ternoda oleh debu perjalanan. Senyum dan tertawa, memberikan kesejukan tersendiri dalam ruang kebersamaan kami di jalan ini.

Kami ingin senyum dan tawa dalam kebersamaan ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar ra tentang sahabat Rasulullah saw. Ketika ia ditanya, “Apakah para sahabat Rasulullah itu tertawa?” Ibnu Umar menjawab, “Ya, mereka tertawa, tapi keimanan dalam hati mereka laksana gunung yang kokoh.”

Perjalanan ini Tidak Boleh Terhenti
Setelah kesulitan melakukan amar ma’ruf dan nahyul mungkar. Setelah menumpahkan segenap upaya, kesabaran dan lipatan kesabaran. Kami harus tetap bertahan dan meneruskan perjalanan ini. Kami tidak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir dari jalan ini. Kami tidak boleh tertipu dengan kekuatan kebatilan, karena kebenaran akan tetap eksis. Jalan ini menunjukkan fakta kepada kami, bahwa perjalanan bersama kebatilan hanya bergulir satu masa. Sementara perjalanan bersama kebenaran itu akan berlangsung hingga akhir masa.

“Tidakkah kalian perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik. Akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS Ibrahim :25)





Wallahua’lam Bish Showaf
Oleh: M. Lili Nur Aulia
Read more...
separador

Total Pageviews

Followers

Entri Populer